SEKILAS INFO
: - Selasa, 10-12-2019
  • 4 minggu yang lalu / “Isriati Cahannel” adalah proyek pengembangan youtube channel resmi dari SD Hj. Isriati Baiturrahman 2, silahkan subscribe untuk mendukung channel ini agar tetap eksis
Belajar Budaya Akademik dari IIUM

Pengalaman pertama mendampingi mahasiswa melaksanakan studi banding atau rihlah ilmiah atau field trip, meskipun secara personal, ini adalah yang kedua kunjungan saya ke International Islamic University Malaysia (IIUM) atau dalam bahasa yang digunakan kampus adalah Universitas Antar Bangsa Malaysia, saya mendapatkan banyak pelajaran akademik yang sangat berharga.
Pertama kali saya berkunjung ke IIUM adalah sebagai narasumber tim penelitian kolaborasi dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Fakultas Pertanian Universitas Diponegoro tahun 2015, tentang Impact ekonomi sertifikasi halal suatu produk makanan, minuman, obat-obatan, dan kosmetika, belajar dari International Halal Research and Training. Saya manfaatkan kesempatan tersebut, untuk belajar banhak, mengapa di Malaysia yang dalam aturan hukumnya sertifikasi halal bersifat voluntary, namun perkembangannya cukup meyakinkan. Jawabannya, ternyata sederhana, karena back-up, political will, dan supporting pemerintah demikian kuat. Bukan karena Malaysia adalah negara yang menempatkan Islam sebagai identitas negara, sebagaimana disebut dalam Perkara 3 (1) bahwa Perlembagaan Persekutuan yang menyebut “Islam adalah agama bagi Persekutuan” atau dalam teksnya disebut “Islam is the religion of the federation”, akan tetapi persoalan sertifikasi halal adalah soal kenyamanan dan keluasan konsumen.
Niat awal dan realisasi program studi banding dan fieldtrip mahasiswa pascasarjana, adalah merintis implementasi dari program internasionalisasi yang menjadi bagian dari komitmen pascasarjana untuk mewujudkan visi dan misi UIN Walisongo, sebagai “Universitas Islam Riset Terdepan berdasar pada Kesatuan Ilmu (Unity of Science) untuk Kemanusiaan dan Peradaban”. Saya sendiri, yang ketika masih menjabat direktur Pascasarjana UIN Walisongo, diamanati oleh teman-teman direktur sebagai Ketua Forum Direktur Pascasarjana PTKIN se-Indonesia selama hampir 4 (empat) tahun, dalam beberapa kali pertemuan Fordipas, mengangkat isu dan tema internasionalisasi pascasarjana PTKIN.
IIUM melalui Ahmad Ibrahim Kulliyah of Law (AIKOL) di bawah pimpinan Prof. Dr. Tu’ Puan Asiah Mohamada, menyambut kunjungan kami dengan mengagendakan Joint Seminar dari jam 14.00-17.15 waktu Malaysia. Ada tiga materi utama yang dibahas oleh dua orang assosiate profesor, dan satu mahasiswa doktoral. Pertama, Halal Certification : Malaysia and Indonesia Experience oleh Ass Prof. Dr. Noriah Ramli, kedua, Sulh in The Madiating of Islamic Court oleh Ass. Prof. Nora Abdul Hak, dan ketiga, Legal Development of Waqf in Indonesia oleh Fahmi M. Nasir (Jeumpa D’ Meusara). Saya sendiri membentangkan materi tentang A Glance of Halal Certification in Indonesia: From Voluntary to Mandatory. Selain itu, saya juga merespon paparan tentang Effect of the Sulh in Mediation is Islamic Court dengan mempertanyakan Efeectiveness of Sulh in Mediating of Islamic Court in Malaysia dan juga menjnjjkkan bahwa saya menulis buku The Family Law in Indonesia meskipun belum diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, yakni Hukum Perdata Islam di Indonesia.
Di Malaysia meskipun sertifikasi halal ini sebenarnya sama dengan di Indonesia, bersifat voluntary, namun karena supporting pemerintah demikian besar, maka hampir tidak ada industri yang tidak mengajukan sertifikat halal. Di akhir sesi, Prof Nor Asiah menyimpulkan, bahwa joint seminar ini masih perlu ditindaklanjuti dengan agenda yang lebih serius lagi, berupa joint international conference in Islamic law dan joint international research lainnya. Setelah itu diakhiri dengan saling menyerahkan souvenir sebagai tanda diperlukan ya tindaklanjut antara Pascasarjana UIN Walisongo dan Ahmad Ibrahim Kulliyah of Islamic Law (AIKOL) IIUM Malaysia.
Gagasan internasionalisasi Pascasarjana UIN Walisongo selain harus menjadi komitmen bagi Direktur dna jajaran Pascasarjana UIN Walisongo, perlu dukungan kebijakan yang lebih serius dan terukur, baik dari penguatan anggaran untuk kegiatan internasional, juga soal supporting dari Diktis Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama. Bagi mahasiswa pascasarjana, even akademik ini, sangat dibutuhkan, karena banyak potensi mahasiswa yang perlu difasilitasi dalam membangun akses akademik dan utamanya para dosen, agar ke depan lebih mudah dan semangat untuk melakukan publikasi karya tulis atau artikel di jurnal-jurnal internasional, syukur-syukur yang terindeks oleh lembaga yang bereputasi.
Agenda pada hari berikutnya dilanjutkan dengan berkunjung di Kampus Prince of Songkla University di Pattani Thailand Selatan. Acara ini juga dimaksudkan bagaimana mahasiswa mengetahui secara langsung bagaimana negara yang mayoritas memeluk agama Budha ini, ternyata di Pattani ini, sambungan jaringan internasional, sempat tidak nyambung atau kemungkinan diputus oleh pemerintah. Ketika saya konfirmasi kepada tour leader berlisensi, Kasim warga Thailand Selatan yang fasih berbahasa melayu, karena banyak pesantren-pesantren yang masih harus “diwaspadai” oleh pemerintah Thailand. Beberapa informasi penting tentang bagaimana PSU (Prince of Songkla University) Thailand, akan diulas dan dinarasikan pada tulisan berikutnya. Insyaa Allah.
Perjalanan Thailand-Kuala Lumpur International Airport, 5/10/2019.

TINGGALKAN KOMENTAR