SEKILAS INFO
: - Selasa, 10-12-2019
  • 4 minggu yang lalu / “Isriati Cahannel” adalah proyek pengembangan youtube channel resmi dari SD Hj. Isriati Baiturrahman 2, silahkan subscribe untuk mendukung channel ini agar tetap eksis
Belajar jadi Ulil Albab dari orang lain

Saudaraku, atas karunia dan inayah Allah, 1/10/2019 sore rencana lama untuk membekali mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo dengan belajar jadi lebih baik dari orang lain di tiga negara jiran, terlaksana. Bagi mahasiswa S2 yang di fakultas dan bahkan S1 tampaknya sudah biasa. Agak ironis memang, untuk Pascasarjana, rasanya baru bisa diawali semester ini. Ini pun harus menunggu, ketika tidak lagi menjabat sebagai direktur pascasarjana, karena yang seharusnya berakhir 9 November ternyata dimajukan menjadi 29 Agustus 2019.
Hidup ini diciptakan bersama dengan mati, adalah untuk kontestasi, siapa yang paling baik amal kebaikannya (QS. Al-Mulk:2). Karena itu, siapapun yang ingin hidupnya sukses, dia harus memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantage). Keunggulan kompetitif ini merupakan suatu keniscayaan (conditio sine quanon), sesuai dengan level dan kompetensi seseorang. Dengan kata lain, seseorang juga harus tahu dan sadar diri, seberapa dirinya memiliki keunggulan, dalam bidang apa, dan pada tataran mana kompatibilitas dirinya bersaing atau bahkan berhadapan dengan siapa dan untuk kepentingan apa.
Dalam waktu yang sama Allah, Sang Khaliq, memberikan bekal keterampilan dan kompetensi, kepada hamba-hamba-Nya masing-masing berbeda dan keistimewaan masing-masing. Ini dimaksudkan agar masing-masing hamba bisa bekerjasama dan saling tolong menolong, saling isi mengisi, agar kesempurnaan hidup bisa diraih bersama. Manusia diciptakan hidup berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah untuk saling mengenal (QS. Al-Hujurat:13). Setelah saling mengenal, adalah saling tolong menolong, termasuk di dalamnya dalam berbagi ilmu dan dalam kebaikan. Sebaliknya kita dilarang tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan (QS. AL-Maidah:2).
Allah ‘Azza wa Jalla memberi kesempatan dan atau pilihan pada hamba-hamba-Nya menjadi ulul albab. Yaitu, orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal (QS. Az-Zumar:18). Kata “yastami’u” artinya “mendengarkan” dan “sami’a” artinya “mendengar”, tentu berbeda maksud dan kualitasnya. Mendengarkan itu ada usaha, sengaja, dan perhatian tertentu yang disengaja. Sementara mendengar, boleh jadi, tidak sengaja tetapi mendengar, termasuk katagori mendengar. Karena itu, wajar jika salah satu indikator orang yang ulil albab, adalah kemauan atau kesengajaan mendengarkan perkataan orang lain, dan berikutnya adalah mengikutinya yang lebih baik.
Saudaraku, mengapa warga negara tetangga, yang hanya berpenduduk 6 jutaan, yang tidak memiliki sumber daya alam dan boleh dikata tidak cukup nampak di peta, tetapi budaya bersih, hijau, dan estetikanya begitu tinggi, dan hukum dijalankan dengan sangat baik? Perkembangan sains dan teknologi, yang dikatakan 4.0 yang serba digital sudah dipraktikkan. Tak terdengar suara klakson mobil, laju kecepatan mobil di jalan yang cukup luas pun, rata-rata 60-80 km/perjam. Marka jalan yang nampak adalah perpaduan warna-warni bunga bougenvile, yang enak dipandang mata. Tentu masih banyak yang bisa disebut sebagai daftar cara berbudaya di dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, kita dan mungkin sebagian besar masyarakat di negeri kita tercinta, masih harus banyak belajar untuk bisa mengamalkan ilmu tentang budaya bersih, disiplin, keindahan, dan komitmen untuk menjadi warga yang sadar aturan agama, budaya, dan tertib dalam kehidupan sehari-hari. Soal ilmu dan rambu-rambu agama, kiranya tidak perlu diragukan. Soal kebersihan, kirana semua hafal “an-nadhafatu min al-iman” artinya “kebersihan adalah sebagian dari iman”. Demikian juga soal kedisiplinan, kita dengan fasih mengutip kata bijak “al-waqtu ka s-saif idzaa lam taqtha’hu qatha’aka” artinya “waktu laksana pedang, apabila engkau tidak mampu memotongnya, maka waktulah yang akan memotongmu”.
Dengan tanpa menyalahkan siapapun, kiranya kita perlu melakukan introspeksi diri, muhasabah, dan melakukan usaha dan ikhtiar serius, untuk memperbaiki kebiasaan dan budaya hidup kita. Kita semua yakin, sudah sangat rindu, akan tampilan dan perubahan budaya kita menjadi lebih baik. Kota Semarang misalnya, sedang berbenah diri semua wajah dan casingnya disulap oleh walikota, Mas Hendy, yang makin tampak seksi dan cantik. Tentu kecantikan wajah kota Semarang, akan lebih terasa sejuk, nyaman, dan berasa hebat, manakala budaya hukum, beragama, dan estetika, termasuk wisata kuliner halal, bisa dipercepat, akan menjadi lebih keren dan menjadi dambaan sekaligus kebanggaan warga.
Selamat belajar menjadi ulil albab, generasi dan masyarakat cerdas, yang men mendengarkan orang lain dan mengikuti mana yang terbaik. Perhatikan apa yang dikatakan atau ditunjukkan oleh seseorang, jangan perhatikan siapa yang mengatakannya atau menunjukkannya (undhur maa qaala wa laa tandhur man qaala). Semoga hari ini, kita menjadi lebih baik dari yang kemarin, dan menjadi orang yang beruntung. Allah a’lam bi sh-shawab.
Perjalanan Malaysia-Thailand Selatan, 4/10/2019.

TINGGALKAN KOMENTAR