SEKILAS INFO
: - Selasa, 10-12-2019
  • 4 minggu yang lalu / “Isriati Cahannel” adalah proyek pengembangan youtube channel resmi dari SD Hj. Isriati Baiturrahman 2, silahkan subscribe untuk mendukung channel ini agar tetap eksis
Hacker dan Waspada dalam Menolong

Assalamualaikum wrwb.
Mari kita mensyukuri anugerah dan nikmat Allah yang telah dilimpahkan pada kita semua. Hanya atas anugerah dan nikmat pemberian-Nya, kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktifitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah saw, semoga tercurah pada keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia meneladani beliau. Semoga semua urusan kita dimudahkan oleh Allah, dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau.
Saudaraku, sudah sejak bulan Sya’ban 1440 H dan hingga tulisan ini saya buat, foto saya dalam berbagai even dan busana yang berbeda, dibajak orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Tujuannya untuk menipu atas nama saya, minta bantuan untuk ditransfer uang, dan dijanjikan akan segera dikembalikan. Alasannya, kata pembajak ini, “saya butuh, karena ATM saya tercecer, sementara keluarga saya opname di rumah sakit, sementara saya diposisikan sedang berada di luar kota, atau saya sedang dalam keadaan terpepet dan butuh”.
Anehnya, ini sudah kali ke tujuh, pembajak dengan nomor yang berganti-ganti dan foto saya yang berbeda-beda. Nomor rekening bank yang ditunjukkan juga berbeda-beda. Yang pertama, atas nama Edo Putra, No. Rek. 7036 0539 820 kode. 022. Di Bank CIMB Niaga, dan atas nama Saharudin di BNI dengan no rek. 0844 685 427. Nomor handphone (hp) yang digunakan pembajak adalah 0857 2798 0688, yang dulu 0852 3291 2612.
Teman-teman yang memahami bahasa dan tutur kata saya, pada umumnya sudah sangat memahami, bahwa saya tidak mungkin meminta-minta dengan gaya bahasa yang tidak lazim, apalagi melalui WA, dan mereka banyak yang mengonfirmasi ke saya. Sebagai muslim, saya wajib bertutur kata yang baik, mengawali dan mengakhiri komunikasi dengan salam. Bahkan saya membiasakan komunikasi dengan mahasiswa pun, sebisa mungkin dengan tutur kata yang baik. Bukankah berkomunikasi melalui HP juga adalah bagian dari pendidikan, untuk mengedukasi mahasiswa supaya bisa bertutur kata yang sopan santun.
Antara dosen dan mahasiswa hanyalah soal selisih umur dan tentu dosen mendapatkan ilmu terlebih dahulu. Secara hakiki, tata krama berkomunikasi, saya belajar banyak kepada para Ulama, senior, dan lain-lain. Mbah KH Maimun Zubair, al-maghfur lah, senangiasa memberi wejangan, “janganlah berharap apalagi memaksa santri dan murid-murid yang kamu diamanati mendidik mereka, semuanya pandai dan pintar. Doakan saja kepada Allah, agar ilmu yang mereka pelajari bermanfaat dunia akhirat”. Makanya, jkka ada dosen yang sering merasa sibuk, tidak ada waktu untuk mahasiswanya yang mau berkonsultasi, apakah itu skripsi, tesis, atau disertasi, tidak mau atau setidaknya “mempersulit” mahasiswanya, semoga mendapatkan hidayah dan inayah dari Allah, dan dibukakan hatinya untuk berbagi waktu dan ilmu, agar keberkahan dari Allah menyirami hati dan menyejukkan fikirannya.
Teman-teman yang memahami gaya bahasa dan tutur kata saya, banyak yang mengonfirmasi langsung kepada saya. Karena nomor handphone saya hanya satu. Saya hanya bisa berharap, teman-teman waspada, hati-hati, dan tidak mudah untuk terpancing untuk berbaik hati, untuk “menolong karena tipuan” orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Saudaraku, menolong orang lain itu sangat dianjurkan oleh ajaran agama. Akan tetapi jika tidak tepat sasaran, apalagi oleh penipu yang sangat tidak beranggung jawab, tentu tidak sesuai dengan aturan agama. Secara pribadi, nama saya, sudah dicemarkan. Saya belum punya waktu untuk melaporkan dan datang ke aparat yang berwenang, secara langsung. Sebenarnya sudah pernah saya sampaikan melalui WA, pada teman yang belum lama selesai Program Doktor Ilmu Hukum (PDIH) yang kebetulan tugasnya di tempat yang sangat memungkinkan untuk bisa mengusut itu.
Para hacker ini, tampaknya tidak ada bosan-bosannya, mencatut, membajak foto saya, dan banyak teman-teman saya, dengan modus dan tujuan yang sama. Bahkan lebih “kurang ajarnya” lagi, sampai nomor saya yang asli pun, dikirimi. Liputan6.com, Jakarta merilis, “Tiga hacker Surabaya diciduk polisi. Mereka diduga meretas ribuan situs web dan sistem teknologi informasi di 44 negara. Ketiga tersangka berstatus mahasiswa di Surabaya. Usia mereka masih 21 tahun dan sama-sama tergabung dalam Komunitas Surabaya Black Hat (SBH). Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Roberto Pasaribu mengatakan, para tersangka berinisial NA, KPS, ATP, bersama komplotannya yang total enam orang, diduga meretas sekitar 3.000 sistem teknologi infomasi dan situs web selama tahun 2017” (15/3/2018).
Membaca berita tersebut di atas, jika kelas hacker yang masih sangat muda, bisa meretas 44 negara, terus pengguna handphone yang kelas-kelas seperti saya, yang tidak begitu mahir IT, terus bagaimana nasibnya ya? Makin miris saja rasanya. Untuk mengantisipasi agar tidak terjebak oleh tipuan, saya sendiri juga agak ga faham. Pertama, teman-teman saya khususnya, waspadalah. Sekarang ini, jika kita mau berbuat baik, harus waspada dan hati-hati, dan tepat sasaran.
Kedua, dalam tata krama pergaulan kita sebagai bangsa Indonesia yang beradab, tentu tidak lazim, dengan bahasa yang kurang sopan, atau berbeda dengan kebiasaan orang-orang yang foto dan nama baiknya dicemarkan itu. Di sinilah manfaat dan pentingnya kedalaman nilai bersilaturrahim. Ketiga, cocokkan dan konfirmasikan, dengan nomor yang Anda punya dari orang yang foto dan nama baiknya dicatut dan jangan mudah percaya.
Ketiga, tampaknya perlu regulasi yang lebih baik dan sistematis lagi, bahwa data nomor hp adalah bagian dari privasi yang tidak boleh diberikan oleh lembaga apapun atau perorangan pun, kepada orang lain atau siapapun, tanpa seijin orang yang bersangkutan.
Keempat, pendaftaran nomor perdana, tampaknya perlu diperketat, agar seseorang yang menggunakan nomor tertentu, untuk meretas dan mencemarkan nama baik orang lain, dengan tujuan menipu dan mendapatkan keuntungan material atau non-material, bisa segera ditangkap aparat, meskipun laporan hanya melalui alat komunikasi.
Kelima, jika regulasi yang memungkinkan pengaturan dan perlindungan konsumen belum ada, kiranya pemerintah dan para anggota DPR-RI perlu segera menyiapkan, membuat, dan menetapkannya, demi melindungi hak-hak dan martabat masyarakat. Allah a’lam bi sh shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan, Semarang, 18/8/2019.

TINGGALKAN KOMENTAR