Hikmah Ibadah Ṣalat membentuk  Pribadi Akhlaq yang Mulia

Oleh: Muhammad Fatih, S. Pd. I

 

Buku Integrasi Budi Pekerti dalam Pendidikan Agama Islam menjelaskan bahwa hikmah ṣalat dapat dilihat dari beberapa segi antara lain:

  1. Membiasakan Hidup Bersih

Kebersihan merupakan kebutuhan hidup manusia, karena dengan kebersihan manusia dapat melaksanakan kegiatannya dengan lancar tanpa hambatan. Salah satu cara untuk membiasakan hidup bersih yang paling efektif adalah dengan melaksanakan ṣalat secara teratur dan benar. Sebagaimana kita maklumi bahwa orang yang melakukan ṣalat, syaratnya harus bersih, suci dari hadats dan najis, bersih badan, pakaian, tempat dan lingkungannya. Oleh karena itu, manusia harus senantiasa membiasakan hidup bersih. Jadi, ṣalat merupakan upaya yang paling efektif dalam membiasakan hidup bersih lahir dan batin.

  1. Membiasakan Hidup Sehat

Sehat merupakan karunia Allah swt. yang diberikan manusia dan harus disyukuri. Dengan kesehatan manusia dapat melakukan aktivitas kehidupan beribadah dengan baik. Cara mensyukuri kesehatan tersebut adalah dengan mempergunakan kesehatan untuk beribadah kepada Allah swt. dan memelihara kesehatan tersebut. Adapun cara membiasakan hidup sehat adalah dengan ṣalat. Selain memuat bacaan-bacaan tertentu, ṣalat juga terdiri atas gerakan-gerakan yang tertib, sehingga apabila dilaksanakan secara teratur akan berfungsi sebagai olah tubuh yang baik untuk kesehatan. Dengan demikian, baik dilihat dari wuḍu, ataupun gerakan ṣalat ternyata sangat efektif untuk membiasakan manusia hidup sehat. Gerakan-gerakan dalam ṣalat itu justru nilainya di atas gerakan senam ataupun olah raga.

  1. Membina Kedisiplinan

Disiplin sangat penting dalam kehidupan manusia. Orang yang disiplin akan sukses dalam kehidupan, masyarakat yang disiplin akan mencerminkan ketenangan dan ketentraman. Sebaliknya orang yang tidak disiplin akan rugi dalam kehidupannya dan merugikan kehidupan orang lain.

Adapun cara membina kedisiplinan adalah  ṣalat secara teratur, baik dan benar. Melakukan ṣalat dituntun disiplin baik dengan waktu maupun ketaatan. Ṣalat harus dilakukan pada waktunya. Tidaklah mungkin ṣalat subuh dilakukan pada waktu ṣṣṣzuhur, ṣalat jum’at dilakukan pada hari kamis dan seterusnya. Ketika imam sujud, maka semua jama’ah harus sujud. Dengan demikian ṣalat mampu membina kedisiplinan.

  1. Melatih Kesabaran

Manusia harus membiasakan diri untuk bersikap sabar. Dengan sabar hidup menjadi tenang dan tenteram, serta tujuan hidup dapat tercapai. Orang yang tidak sabar dalam kehidupan akan mengalami depresi mental dan stress.

Ṣalat yang dilakukan dengan baik dan benar dapat melatih kesabaran. Orang yang ṣalat harus sabar mengikuti imam. Maksudnya tidak boleh mendahului imam. Orang yang ṣalat harus menunggu tepat waktunya ṣalat dan harus sabar menyelesaikan perbuatan ṣalat.

  1. Mengikat Tali Persaudaraan Sesama Muslim

Mengingat pentingnya silaturrahmi dalam kehidupan, manusia harus senantiasa menyambung silaturrahmi. Dengan silaturrahmi, persoalan hidup menjadi mudah, jiwa menjadi tenang, rizki menjadi luas, bahkan umur menjadi panjang. Cara membina silaturrahmi yang baik adalah dengan ṣalat, khususnya ṣalat berjama’ah. Rosulullah SAW senantiasa ṣalat berjamaah dan menyuruh umatnya untuk selalu berjamaah dalam setiap ṣalat fardlu dengan melipatgandakan pahalanya sampai 27 kali lipat dari ṣalat sendirian.

  1. Shalat dapat Menentramkan Baṭin

Kehidupan modern mengakibatkan kebutuhan yang meningkat. Hal tersebut akan berdampak semakin meningkatnya persaingan prestise yang membawa manusia pada kegelisahan dan kecemasan. Guna mengantisipasi kehidupan tersebut, cara paling ampuh ialah dengan melakukan ṣalat secara baik dan benar. Dengan cara ṣalat orang akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sekaligus menentramkan bathinnya.

Af’āl atau sikap dan gerak gerik kita dalam ṣalat mengandung hikmah yang sangat efektif untuk mencegah kemaksiatan dan kejahatan, sebagaimana uraian berikut:

  1. Waktu ṣalat kita dituntut untuk menutup aurat dengan sempurna, baik laki maupun wanita. Hikmah yang terkandung didalamnya adalah agar senantiasa menutupi aurat kemanapun kita pergi atau berhadapan dengan orang lain yang bukan muhrim, bukan suami atau istri.
  2. Selama ṣalat, mata kita dilatih untuk hanya melihat tempat sujud, tidak boleh menoleh kiri kanan atau ke belakang. Hal ini melatih diri kita untuk selalu mengendalikan pandangan mata “Ghadhul bashār” karena mata yang liar adalah sumber kejahatan dan kemaksiatan.
  3. Selama ṣalat lidah kita hanya boleh membaca bacaan ṣalat saja. Hal ini melatih diri kita untuk senantiasa hanya mengucapkan kata-kata yang diridhai oleh Allah swt saja, agar terjauh dari kata-kata kotor, bohong, gunjing, gossip dan caci maki yang semunya akan membawa pada kejahatan dan kemaksiatan.
  4. Selama ṣalat, telinga juga tidak boleh mendengarkan apapun dengan sengaja selain bacaan ṣalat kita sendiri atau bacaan imam. Hal ini melatih diri kita untuk hanya mendengarkan hal-hal yang diridhai Allah swt saja, menjauhkan pendengaran dari hal yang tidak diridhai oleh Allah swt karena apa yang kita dengarkan akan mempengaruhi hati dan tingkah laku kita.
  5. Kaki dan tangan kita selama ṣalat dilatih tidak bergerak seenaknya, tidak melangkah kemanapun, dan tidak memegang atau menggerakkan tangan seenaknya, ini melatih kita agar kaki dan tangan kita juga hendaknya selalu melangkah dan melakukan hal-hal yang diridhai oleh Allah swt. saja. Tidak mempergunakannnya untuk kejahatan dan kemaksiatan apapun karena semuanya itu akan dipertangggungjawabkan di hadapan Allah swt. kelak di akhirat.

 

 

Semoga bermanfaat