SEKILAS INFO
: - Selasa, 10-12-2019
  • 4 minggu yang lalu / “Isriati Cahannel” adalah proyek pengembangan youtube channel resmi dari SD Hj. Isriati Baiturrahman 2, silahkan subscribe untuk mendukung channel ini agar tetap eksis
Menjaga Makna Shalat dan Kemabruran Haji

Assalamualaikum wrwb.
AlhamduliLlah wa syukru liLlah. Mari kita bersyukur ke hadirat Allah, hanya karena anugerah dan inayah Allah, kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktifitas kita hari ini tanpa halangan. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada junjungan kita Nabi Muhammad Rasulullah saw, keluarga, sahabat, dan pengikut beliau. Semoga semua urusan kita dimudahkan oleh Allah, dan kelak di akhirat kita mendapatkan syafaat beliau.
Saudaraku, ijinkan saya di hari Jumat penuh berkah ini, kita merenungkan dan mencermati secara saksama, Firman Allah dalam QS. An-Nisa’ : 104-105 dan QS. Al-Baqarah: 200-202. Perenungan atau mentadabburi ayat tersebut, bertujuan agar kita bisa dan diberi kemampuan oleh Allah untuk menjaga makna shalat yang menjadi kewajiban harian kita, dan merawat kemabruran ibadah haji kita. Bagi yang masih menunggu antrian, atau yang sedang bersiap untuk mendaftar untuk mendapatkan porsi sebagai calon tamu Allah Yang Maha Pengasih (dhuyuuf al-Rahman).
QS. An-Nisa’ 103-105 menjelaskan tentang apa yang harus kita lakukan setelah selesai menjalankan ibadah shalat. Sementara QS. Al-Baqarah 200-202 menjelaskan tentang apa yang harus kita laksanakan setelah selesai menunaikan ibadah haji. Dalam QS. An-Nisa 103 ditegaskan, “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. Sementara pada ayat 104, Allah menegaskan : “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
Ayat tersebut memerintahkan, apabila kita selesai mengerjakan shalat, kita diperintahkan untuk tetap mengingat Allah, dengan berdzikir dalam setiap kesempatan, agar kita mendapatkan ketenangan dan merasa aman, dan setelah itu dirikanlah shalat lagi sebagaimana biasa. Ini menunjukkan bahwa ibadah shalat harus dijaga sebaik-baiknya, dan makna shalat yang paling sederhana adalah mendapatkan ketenangan dan perasaan aman. Karena itu, Allah mewajibkan kita sebagai hamba-Nya, lima kali sehari semalam adalah agar tidak ada komunikasi yang terputus antara hamba dan Sang Khaliq, dan karena itu sebagai hamba merasa nyaman dan thuma’ninah.
Sementara itu, bagi hamba-hamba Allah yang usai menunaikan ibadah haji yang sering disebut manasik haji, maka tetap diperintahkan untuk senantiasa untuk berdzikir mengingat Allah, sebagaimana mengingat kedua orang tua kita, atau bahkan melebihi dari itu. Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah (2): 200 sebagai berikut: “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat”.
Ayat tersebut mengingatkan kepada kita dan saudara kita yang usai menunaikan ibadah haji, agar menempatkan dzikir mengingat Allah di atas segalanya. Ini dimaksudkan agar selain mendapatkan bagian dunia dengan mendapatkan haji yang mabrur, juga mendapatkan kebahagiaan di hari akhirat nanti. Rasulullah saw mengingatkan kita semua, bahwa kemabruran ibadah haji, ditunjukkan melalui indikator: pertama, menebar kedamaian, kesejahteraan, dan keselamatan atau ifsya’u s-salam.
Kedua, kedermawanan yang makin meningkat. Harta kita yang sesungguhnya, adalah manakala kita bisa menyisihkan dan memberikannya kepada orang lain yang membutuhkannya. Rasulullah saw membahasakannya dengan ith’amu th-tha’am. Pada saat sedang menunaikan ibadah haji, seorang tamu Allah dianjurkan untuk menyembelih seekor kambing atau unta untuk tujuh orang. Jika seseorang memilih tamattu’ atau melaksanakan ibadah umrah dulu dan setelah itu menunaikan ibadah haji, makai a wajib membayar dam nusuk atau dam wajib. Demikian juga yang menempuh haji qiran, atau ibdah haji dan umrah secara bersamaan. Sementara bagi yang memilih haji ifrad, yakni ibadah haji terlebih dahulu, setelah itu melaksanakan umrah, maka dianjurkan untuk berkurban.
Ketiga, menyambung persaudaraan sejati atau shilaturrahim. Seseorang yang usai melaksanakan ibadah haji, indikatornya human relation-nya atau bangunan persaudaraannya semakin baik dan berkualitas, apakah persaudaraan sesama muslim (ukhuwwah Islamiyah), persaudaraan sesama anak bangsa (ukhuwwah wathaniyah), maupun persaudaraan sesama manusia (ukhuwwah insaniyah atau basyariyah).
Keempat, makin berkualitas ibadahnya. Rasulullah saw menyebutnya, wa shalluu wa n-naasu niyaamun. Artinya “dan melaksanakan shalat pada saat manusia kebanyakan sedang tidur nyenyak”. Rasulullah saw memberikan contoh dan teladan, selalu menghabiskan akhir sepertiga malam untuk senantiasa bermunajat, berdzikir, dan mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.
Semoga kita dan saudara-saudara kita yang baru saja pulang dari tanah suci, mendapatkan haji yang mabrur. Yang sudah menunaikan ibadah haji sebelum tahun ini, dapat merawat kemabruran hajinya. Pada yang belum sempat menjadi tamu Allah, segera mendapatkan jalan dan rizqi untuk segera mendaftar menjadi tamu-Nya di tanah suci. Selain itu, juga mampu menjaga shalat secara khusyu’ dan thuma’ninah, agar mendapatkan keistiqamahan dan kebahagiaan sejati dalam hidup di dunia ini dan mendapatkan kesejahteraan hidup di akhirat. Amin.
Allah a’lam bi sh-shawab.
Asrama Haji Donohudan, 24/9/2019.

TINGGALKAN KOMENTAR