SEKILAS INFO
: - Selasa, 10-12-2019
  • 4 minggu yang lalu / “Isriati Cahannel” adalah proyek pengembangan youtube channel resmi dari SD Hj. Isriati Baiturrahman 2, silahkan subscribe untuk mendukung channel ini agar tetap eksis
Muhasabah dan Waspada Menjudgment Orang Lain

Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan kita, sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah (2): 216:” Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Ayat tersebut tentu harus kita fahami dalam makna yang sangat luas. Karena perang di sini tidak hanya dalam pengertian perang secara fisik. Di dunia yang serba digital, ancaman hidup materialistik dan hedonistik ini, kita juga masih punya pekerjaan yang sangat berat, terutama dalam memerangi kemiskinan, baik kemiskinan struktural, kultural, atau natural.
Menurut Ketua Baznas Jawa Tengah, potensi zakat di provinsi Jawa Tengah ini cukup besar. Tahun 2019 ini, potensi dari ASN saja dengan perkiraan 42.679 orang, sekitar RP 56,4 milyar. Angka ini bisa disebut besar namun bisa juga dihitung kecil. Ini karena posisi ASN kira-kira 1,2 persen. Jika potensi dihitung dari rerata penduduk Jawa Tengah yang termasuk katagori muzakki, sudah pasti lebih banyak dari itu.
Jika per September 2018 data penduduk miskin ada 11,19 persen atau sekitar 3,87 orang, maka potensi zakat sesugguhnya masih sagat besar yang belum terhitung. Ini karena masih banyak Organisasi Pengelola Zakat yang ada di Jawa Tengah ini. Persoalannya adalah, bagaimana kita bisa membangun sinergi agar OPZ dan Otoritas atau Badan yang memiliki konsern untuk memperhatikan penduduk miskin, ini bisa diintensifkan lagi.
Rasulullah saw mengingatkan kita, bahwa “Kaada al-faqru an yakuuna kufran” artinya “nyaris orang fakir – atau baca kefakiran – itu menjadi kufur – atau bisa dibaca kafir”. Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya mengajarkan sikap baik kepada Allah subhânhû wa ta’âlâ saja namun juga mengajarkan akhlak yang indah terhadap sesama. Berperilaku baik kepada sesama pun tidak terbatas kepada orang muslim saja. Banyak hadits yang menyatakan bahwa Baginda Nabi tidak memberikan spesifikasi agama yang dipeluk orang lain dalam ranah urusan-urusan sosial.
Suatu ketika istri Rasul, Sayyidah Aisyah meminta petunjuk pada Rasulullah saw. : “Wahai Rasulullah, saya mempunyai dua tetangga. Kepada siapa saya perlu memberikan hadiah? Rasul menjawab, ‘Kepada orang yang pintunya paling dekat darimu’.” (HR Bukhari)

Tetangga yang menjadi prioritas sasaran pemberian adalah tetangga yang pintunya paling dekat dari rumah kita. Rasulullah tidak menyarankan pilihlah agamanya yang paling Islam, tidak. Rasul menyarankan yang paling dekat. Sebab Rasulullah sedang mengajarkan tentang hak-hak bertetangga. Sedangkan kita tidak bisa lepas dengan peranan tetangga. Dalam satu kesempatan, ada sahabat yang bertanya kepada Baginda Nabi Muhammad.“Sesungguhnya Fulanah melakukan ibadah malam dengan rutin, ia juga bersedekah, tapi ia menyakiti tetangga-tetangga dengan mulutnya.” Rasul pun kemudian menjawab: “Ia tak punya kebaikan sama sekali. Dia termasuk ahli neraka.”
Dalam riwayat yang lain : “Rasul ditanya lagi, si Fulanah itu shalat hanya yang wajib-wajib saja. Dia menyedekahkan beberapa potong roti keju, namun dia tidak pernah menyakiti hati tetangganya. Rasul kemudian menjawab, ‘Dia termasuk ahli surga’.” (Al-Baihaqi, Syu’abul Îmân, [Maktabah ar-Rusyd, Riyadl, 2003], juz 12, hal. 94).

Hadits di atas dapat memberikan pemahaman kepada kita bahwa pintu surga tidak hanya terbuka melalui satu jalan ibadah vertikal saja. Tapi harus diseimbangkan dengan hubungan baik secara horizontal. Ibadah malam, berpuasa di siang hari itu sangat baik apabila dibarengi dengan hubungan sosial yang bagus, terutama dalam masalah bertetangga. Dalam bertetangga, Rasul juga pernah berpesan kepada Abu Dzar, untuk memperbanyak kuah saat memasak. Tujuannya, walaupun material masakan sedikit, apabila dipadu kuah yang banyak, tetap bisa berbagi kepada tetangga sebelah.
Pesan Rasulullah ﷺ kepada Abu Hurairah ada lima hal penting yang perlu kita perhatikan: “Hindarilah segala macam bentuk perkara yang haram, niscaya kamu akan menjadi orang yang paling beribadah kepada Allah. Relakan atas apa yang Allah bagikan kepadamu, kamu akan menjadi orang yang paling kaya. Perbaikilah hubunganmu dengan tetangga, kamu akan jadi orang yang beriman. Cintailah manusia sebagaimana kamu mencintai diri kamu sendiri, kamu pasti akan jadi orang muslim sejati. Janganlah kamu memperbanyak tertawa, sesungguhnya tertawa itu bisa mengakibatkan hati mati.” (Musnad Ahmad: 8095). Pada hadits yang masyhur, dikatakan:“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangga.” (HR Bukhari: 6019).
Marilah kita memohon kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, semoga kita diberi kekuatan oleh Allah, untuk senantiasa dapat terus beribadah secara vertikal, sekaligus diberi pertolongan untuk makin menyayangi saudara, tetangga, dan mereka yang membutuhkan pertolongan, untuk kita berderma, bersedekah, berinfak, dan meningkatkan amal sosial kita. Bahkan Rasulullah saw pun, tidak membedakan apa agama mereka yang kita bantu. Apalagi kepada saudara kita yang mungkin dalam beragama, masih sangat membutuhkan arahan, bimbingan, dan doa, meskipun mungkin secara lahiriyah mereka mungkin berlumuran dosa. Tidak ada yang tahu, boleh jadi orang lain yang di mata kita, mungkin bergelimang dosa, akan tetapi Allah akan mengentaskannya dan memposisikannya menjadi lebih mulia dari pada diri kita.
Allah al-musta’an hanya Allah saya tempat bergantung dan memohon pertolongan.

TINGGALKAN KOMENTAR