SEKILAS INFO
: - Rabu, 23-09-2020
  • 2 hari yang lalu / Tanggal 22 – 23 September 2020 siswa-siswi Kelas 1 imunisasi BIAS di Aula Kantor Kelurahan Kalipancur
  • 1 bulan yang lalu / Jika masih terdapat menu pembelajaran yang kosong, maka guru yang bersangkutan dipastikan langsung share ke group WA
  • 2 bulan yang lalu / Jadwal mingguan (weekly) dapat dilihat melaui link menu di atas
Pandemi Covid-19 dan Istitha’ah Haji
SMOL.ID – Kang Sakiman, sebenarnya tahun ini sudah siap-siap berangkat haji. Ketika mendengar Menteri Agama RI mengumumkan pembatalan jamaah calon haji 2020, dia pun kaget. Karena selain sudah banyak woro-woro pada teman-teman dan saudara-saudaranya, hatinya berbunga-bunga karena ingin segera diterima menjadi tamu Allah (dhuyufu r-Rahman).
Apalagi dia rajin mengikuti pelatihan manasik. Karena ia tidak ingin, seperti yang dipesankan Syeikh Ahmad bin Husain bin Ruslan al-Syafi’i dalam Matan az-Zubad dalam syair “wa kullu man bi ghairi’ilmin ya’malu a’maluhu mardudatun laa yuqbalu” artinya “dan setiap orang tanpa ilmu mengamalkan sesuatu, amal perbuatannya ditolak tidak diterima” (h. 32). Demikian juga syair sebelumnya, “fa ‘aalimun bi ‘ilmihi lam ya’malan mu’addzabun min qabli ‘ubbaadi l-watsan” artinya “maka orang yang berilmu tidak mengamalkan ilmunya, disiksa sebelum para penyembah berhala”. “Sugeng sonten Kang”, sapa Kang Sakiman mengawali silaturrahim kami. Ia pun sore itu mengajak tetangga sebelah yang Pak Konder. Nama yang aslinya, Khudlari, tidak tahu bagaimana asal muassalnya, sampai lebih popular dengan nama itu. Info Kang Sakiman, pak Konder ini juga rencananya tahun depan berangkat haji, kalua tidak ada penundaan ibadah haji tahun 2020.
“Monggo Kang Sakiman, eh Pak Konder, wah jadi tambah sedulur, ga ada order kerjaan luar kota nih Pak?” sapa saya. “Bi Omi, tolong dibuatkan copi kental hitam, sekalian jenang 33 dan mubarok khas Kudus, yang sudah menasional itu. Kebetulan saya dulu pernah diminta menyiapkan buku, maka alhamdulillah sampai sekarang Pak Hilmy, setiap menjelang Idul Fitri mengirim produknya itu” saya meminta tolong pada Bi Omi. Kang Sakiman sudah tidak sabar ingin segera memulai diskusi. “Nuwun sewu kang, Senin, 22/6/2020 bertepatan 30/Syawwal/1441 H, pemerintah Arab Saudi mengumumkan bahwa pelaksanaan ibadah haji tetap diselenggarakan dengan jumlah yang sangat terbatas “bi ‘adadi mahdudin jiddan” calon jamaah yang bermukim di Arab Saudi, karena dampak Corona Virus Desease (Covid-19).
Pada awalnya saya sudah timbul semangat lagi, namun ternyata itu hanya untuk warga yang sudah bermukim di Arab Saudi” ujarnya dengan tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. “Ya Kang Sakiman, saya juga sempat meminta konfirmasi pada kawan senior saya, Dr. KH. Agus Maftuh Abegebriel, Duta Besar RI untuk pemerintah Arab Saudi. “Inggih Kyai” kata Kyai Agus. Saya juga dikirimi, Kang Agus Maftuh dengan stasiun TV Swasta pagi berdurasi 5.44 menit di acara primetime. Laman detik.news (23/6/2020) menampilkan headline “Arab Saudi Hanya Izinkan 1.000-an Jamaah Haji 2020”. Udahlah Kang, saya menyadarkan Kang Sakiman. Pembatalan pemberangkatan haji 2020 ini, insyaa Allah yang terbaik. Karena saya yakin, haqqul yaqin, pembatasan jumlah jamaah haji itu, bertujuan untuk menjamin keamanan dan keselamatan dengan menerapkan semua Langkah pencegahan penyebaran virus corona demi melindungi setiap orang dari risiko terjangkitnya wabah serta merujuk kepada ajaran Islam yang memprioritaskan keselamatan umat manusia” saya berusaha menjelaskan kepada Kang Sakiman dan Pak Konder pun, ikut-ikutan tampak sedih, karena “berarti saya juga ikut mundur dan tidak jadi tahun depan” gumam Kang Konder. Menteri Agama RI memang sudah lebih dahulu “membatalkan” keberangkatan calon jamaah haji, bahkan sampai harus meminta maaf kepada anggota DPR-RI karena anggap memutuskan urusan 221.000 calon jamaah haji, secara sepihak. “Begini Kang Sakiman dan kang Konder, saya semalam membuka referensi Al-Mughni fi Fiqh al-Hajj wa al-‘Umrah yang ditulis oleh Sa’id bin ‘Abd al-Qadir Basyinfar. Para Ulama sepakat bahwa syarat ibadah haji adalah adanya istitha’ah atau kemampuan (QS. Ali ‘Imran (3): 97). Sa’id bin ‘Abd al-Qadir Basyinfar dalam Al-Mughni fi Fiqh al-Hajj wa al-‘Umrah hal. 14, menjelaskan, bahwa syarat haji ada lima, Islam, berakal sehat, baligh (dewasa), merdeka, dan istitha’ah. Lalu siapa yang disebut orang yang memiliki istitha’ah itu? Rasulullah saw bersabda: “yang mendapatkan sangu (al-zad) dan angkutan (al-rahilah)” (Riwayat At-Tirmidzi)” saya menjelaskan. “Madzhab Hanafiyah menjelaskan, istitha’ah itu meliputi: 1). Sangu (bekal) dan angkutan; 2). Sehat badan, bagi orang sakit tidak wajib haji; dan 3). Aman perjalanannya.
Madzhab Malikiyah berpendapat istitha’ah adalah memungkinkannya sampai (di tanah suci) tanpa ada masyaqat yang besar melebihi perjalanan biasa, aman jiwa, harta. Madzhab ini tidak mensyaratkan adanya bekal dan angkutan. Karena yang penting adalah kemungkinan atau kemampuan untuk sampai. Meskipun seandainya tidak mampu dari sisi bekal dan angkutan, akan tetapi mampu menjalankan ibadha haji, maka dihukumi wajib. Madzhab Syafi’iyah yang banyak diikuti umat Islam Indonesia, menyebutkan bahwa istitha’ah itu berkaitan dengan lima hal: sangu (bekal), angkutan, sehat badan, aman perjalanan, dan memungkikannya perjalanan (hal. 16).
Bekal, cukup untuk pergi, selama perjalanan, pulang, dan cukup untuk menafkahi orang-orang yang menjadi tanggungannya. Bahkan sampai tempat tinggal dan pembantu. Demikian juga perjalanan, maka kalau tidak terpenuhi bekal dan perjalanan, maka gugurlah kewajiban haji. Maaf agak panjang Kang Sakiman dan Kang Konder, silahkan diminum kopi dan jenangnya” saya menawarinya. Kang Sakiman pun menyambung. “Terus, bagaimana keputusan Pemerintah Arab Saudi yang hanya membatasi jamaah haji hanya 1.000 jamaah calon haji, dan hanya orang-orang yang bermukim di Arab Saudi”. “Begini Kang, Haiah Kibar Ulama Saudi, tentu ini sudah mempertimbangkan tuntunan syara’ dan maqashid Syariah dengan sangat matang” saya menjelaskan. “Data per-23/6/2020, Arab Saudi yang terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 164.000 orang (ada tambahan per-24 jam terakhir sebanyak 3.139 orang), sembuh 110.000 orang, meninggal dunia sebanyak 1.346 orang (tambahan 39 orang). Data total seluruh dunia, terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 9,24 juta orang (tambahan sebanyak 133.000 orang), sembuh 6,61 juta, dan meninggal dunia 477.000 orang (tambahan sebanyak 3.847 orang). Bagaimana, mengerikan ya? Padahal biasanya tidak kurang dari 2,5 juta orang, dalam tempat dan waktu yang sama. Pasti tidak bisa menghindari kerumunan itu terjadi. Kalau ada jamaah yang positif Covid-19, mungkin dalam hitungan sangat cepat, yang lain akan tertulari”. “Mudah-mudahan ini keputusan terbaik, karena di dunia ini, apa yang diputuskan oleh pemerintah Saudi, adalah karena mereka mendapat bimbingan dan petunjuk dari Allah. Saya doakan, Kang Sakiman dan Kang Konder, sehat afiat, dan tahun depan menjadi tamu Allah. Semoga mabrur Kang, doanya sekarang kan ga apa. Semoga Allah menjauhkan kita dari terpapar Covid-19. Allah al-Musta’an”, dan diskusi pun berakhir. Allah al-Musta’an. (aa)
Ngaliyan, Semarang, 3/Dzul Qa’dah/1441 H-25/Juni/2020 M. *) Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, dan Anggota Dewan Penasihat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat
Sebagian atau seluruh artikel ini telah diterbitkan di : https://smol.id/2020/06/25/pandemi-covid-19-dan-istithaah-haji/
© 2020 – Suluh Media Network
Editor Arifin – 25 Juni 2020 | 09:25141
Oleh: Ahmad Rofiq*)

TINGGALKAN KOMENTAR