Sejarah Singkat Nabi Muhammad SAW  Masa Kecil, Masa Remaja, dan Masa Dewasa

Oleh : Ricky Rachman, S.Pd.I

Sebelum Nabi Muhammad SAW. lahir, kehidupan penduduk Jazirah Arab sangat berbeda dengan kini. Mereka hidup di tengah gurun pasir yang tandus dan panas. Sumber air hanya terdapat di beberapa mata air atau oase.  Dengan potensi alam yang minim, masyarakat Arab, terutama Mekah dan Madinah, sebagian besar memilih profesi sebagai pedagang.

Perangai masyarakat Arab juga dikenal sangat buruk. Mereka gemar berjudi, pesta minuman keras, perang saudara, mengawini ibu tiri atau adik sendiri, bahkan mengubur anak perempuan hidup-hidup. Namun di sisi lain, mereka mahir dalam kesusastraan.  Adapun kepercayaan penduduk Mekah sebelum Islam datang adalah Watsani (paganisme), atau penyembah berhala. Berhala-berhala itu bahkan diletakkan di dalam Ka’bah.

Suatu ketika Abrahah, Gubernur Yaman,  membangun Qulles (bangunan besar tempat peribadatan Nasrani) yang sangat megah, menyaingi Ka’bah sebagai tempat berziarah. Usaha Abrahah sia-sia, karena Qulles nan megah yang ia bangun tidak banyak dikunjungi peziarah. Akhirnya, jalan terakhir ditempuh. Ia bertekad untuk menghancurkan Ka’bah dengan pasukan gajahnya yang didatangkan dari Afrika.

Namun Allah berkehendak lain. Sesampainya pasukan gajah di hadapan Ka’bah, langit mendadak gelap dipenuhi segerombolan burung Ababil yang membawa batu panas membara. Batu itu dijatuhkan kepada pasukan gajah. Seketika itu pula pasukan gajah kocar-kacir. Dalam sekejap, Abrahah dan bala tentaranya mati.

Dengan lindungan Allah, Ka’bah pun tetap utuh. Para penduduk Mekah bersyukur karena selamat dari invasi tentara Abrahah. Mereka kembali ke kota Mekah dengan hati gembira. Untuk mengenang peristiwa itu, mereka bersepakat menamakan tahun itu sebagai Tahun Gajah. Saat itu bertepatan dengan tahun 570 Masehi.

Pada tahun tersebut telah lahir seorang bayi yang kelak menjadi utusan Allah untuk terakhir kalinya. Tak ada yang menyangka bahwa justru di tempat yang kacau-balau dan jauh dari kemuliaan moral itu lahirlah Sang Rasul terakhir! Sosok itulah yang kelak akan menyeru umatnya untuk kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Putra Abdullah itulah yang akan mengajak masyarakat Arab untuk meninggalkan segala kemungkaran.

Kelahiran dan Masa Kanak-kanak Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW. lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awal Tahun  Gajah atau Senin, 20 April 570 M. Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib yang telah meninggal di Madinah saat berdagang. Sehingga Muhammad lahir dalam keadaan yatim. Muhammad berasal dari keturunan terhormat dari Suku Quraisy dengan garis Kabilah Bani Hasyim. Kakeknya bernama Abdul Muttalib adalah pemimpin Suku Quraisy yang sangat disegani.

Ketika menginjak usia 3 tahun, Muhammad mengalami peristiwa aneh. Ketika itu ia dan teman sebayanya sedang bermain di halaman belakang rumah Halimah. Tiba-tiba Muhammad dibawa oleh dua orang berpakaian serba putih, lalu dadanya dibelah. Itulah peristiwa pembelahan dada oleh dua malaikat untuk membersihkan jiwa Muhammad dari segala macam kotoran hati, seperti takabur, riya’, dengki, dan sebagainya.

Setelah berusia 5 tahun, Muhammad dikembalikan kepada keluarganya dalam asuhan ibu dan kakeknya. Aminah berencana untuk berziarah ke makam suaminya, Abdullah, di Madinah. Ia juga bermaksud sekaligus memperkenalkan Muhammad kepada kerabat Abdul Muttalib dari keluarga Najjar. Mereka berangkat ditemani Ummu Aiman, budak ayahnya saat masih hidup. Sebulan lamanya berada di Madinah, mereka kemudian kembali ke Mekah. Namun ketika perjalanan baru menempuh jarak 37 km, Aminah jatuh sakit hingga akhirnya meninggal. Aminah dimakamkan di tempat tersebut, yakni di Desa Abwa’.

Setibanya di Mekah, Muhammad disambut sang kakek dengan perasaan duka cita. Keadaan Muhammad yang telah yatim-piatu membuat rasa sayang Abdul Muttalib kepadanya semakin besar. Ketika usianya mencapai delapan tahun, sang kakek tercinta, Abdul Muttalib, meninggal dalam usia 80 tahun.

Muhammad lalu diasuh Abu Thalib, salah satu di antara paman-pamannya yang mempunyai hati paling lembut dan halus. Abu Thalib juga termasuk tokoh terhormat di mata kaum Quraisy, walau hidup sangat sederhana dan jauh dari kemewahan. Tak kalah dari sang ayah Abdul Muthalib dan Abu Thalib juga sangat menyayangi Nabi Muhammad SAW.

Masa Remaja Nabi Muhammad SAW

Saat berusia dua belas tahun, Muhammad menemani Abu Thalib melakukan perjalanan dagang ke Syam. Ketika sampai di Busra, rombongan tersebut bertemu seorang rahib yang mengetahui tanda-tanda kenabian Muhammad. Rahib itu menasihati Abu Talib agar merahasiakan hal ini dari orang-orang Yahudi. Menurutnya, sebaiknya Muhammad tidak memasuki Syam terlalu jauh sebab dapat mengancam keselamatannya dari perbuatan jahat orang-orang Yahudi. Abu Talib pun segera mengajak rombongannya untuk menjauh dari tempat itu.

Selain berdagang, Muhammad juga bekerja giat untuk memenuhi kebutuhan hidup sebagai penggembala kambing. Gembala kambing mungkin dipandang sebagai pekerjaan rendah dan hina. Namun pernahkah kamu mengira bahwa pekerjaan itu dapat mendatangkan pelajaran berharga? Dengan menggembala kambing, Muhammad kecil dapat melatih kesabaran, tumbuh rasa sayang terhadap seluruh makhluk hidup dan lingkungan, dan tabah. Nabi Muhammad saw. juga merupakan tipe orang yang gemar merenungkan rahasia penciptaan alam. Ia pun sering memikirkan kondisi masyarakat yang kacau balau ketika itu.

Pada suatu ketika seorang saudagar terkaya di Mekah, Khadijah, sedang mencari pegawai untuk menjalankan perniagaannya. Ia adalah seorang  janda berusia 40 tahun. Kabar tersebut terdengar oleh pamannya Abu Thalib, dan menyampaikannya kepada Muhammad. Beliau pun bersedia menjadi pegawai Khadijah. Karena sifat beliau yang lembut, halus tutur katanya, baik budi, dan pekerja keras. Khadijah bersedia mengupah dua kali lipat dari biasanya, yaitu dengan dua ekor anak onta.

Berangkatlah rombongan kafilah pimpinan Muhammad menuju Syam untuk menjalankan usaha Khadijah. Dalam perjalanan tersebut Muhammad menjumpai berbagai kepercayaan dan ritual peribadatan di Syam seperti Nasrani dan Yahudi. Bahkan Muhammad sering berdebat dengan para rahib dan pendeta Nasrani, dan rahib Nestorian.

Berbekal kejujuran dan kemampuannya dalam berdagang, Muhammad mampu menghasilkan keuntungan besar. Khadijah benar-benar salut terhadap kepribadian dan kemampuan Muhammad. Maka, diutuslah saudaranya yang bernama Nufaisa binti Munya, untuk menjajagi dan menanyakan kesanggupan Muhammad menikah dengannya. Muhammad pun bersedia menikah dengan Khadijah.

Setelah pernikahan itu, usaha dagang yang mereka jalankan bertambah maju. Pasangan suami istri itu hidup dengan bahagia. Allah menganugerahkan kepada mereka enam orang anak, namun kedua putranya al-Qasim dan Abdullah at-Tahir meninggal dunia lebih dini. Tinggallah empat orang putri, yaitu Zainab, Ruqayya, Ummu Kulshum, dan Fatimah.

Setelah hidup berkecukupan bersama Khadijah, Muhammad tetap hidup sederhana sehingga masyarakat Mekah pun menaruh hormat kepada beliau. Selain hidup sederhana, Muhammad juga dikenal sebagai pribadi yang santun, jujur, dan bijak.

Masa Dewasa Nabi Muhammad SAW

Sifat bijaksana dalam diri Muhammad telah diakui masyarakat Mekah setelah melihat sosok Muhammad yang mampu menyelesaikan perselisihan antarkabilah. Suatu ketika, setelah banjir besar melanda sebagian kota Mekah, dinding-dinding Ka’bah pun retak. Seluruh penghuni kota kemudian bergotong-royong memperbaikinya, termasuk Muhammad.

Ketika bangunan Ka’bah mencapai setinggi orang dewasa, Hajar Aswad (batu hitam) pun akan kembali diletakkan ke tempat semula di sudut timur. Persoalan pun muncul, siapa yang seharusnya meletakkan kembali batu suci itu? Merupakan suatu kehormatan di kalangan Quraisy bagi kabilah yang mendapat kesempatan tersebut. Semua Kabilah berebut ingin mengangkat dan memasang kembali Hajar Aswad. Hampir saja pertumpahan darah terjadi akibat masalah itu.

Orang yang tertua dan paling disegani ketika itu, Abu Umayya bin alMughira dari Bani Makhzum, akhirnya mengutarakan idenya terkait permasalahan itu. Ia berkata: “Serahkan keputusan kamu ini di tangan orang yang pertama memasuki pintu Safa.” Ternyata, Muhammad yang pertama memasuki pintu Safa. Akhirnya ia ditunjuk untuk merumuskan solusi terbaik.

Muhammad pun berkata, “Ambilkan sehelai kain”. Setelah kain diambil dan dibentangkan, Muhammad lalu meletakkan Hajar Aswad di atas hamparan kain lalu beliau berkata lagi, “Silakan setiap ketua kabilah memegang ujung kain ini.” Secara bersama-sama, mereka lalu memegang ujung helai kain untuk membawa Hajar Aswad menuju tempatnya semula. Setelah sampai di tempat tersebut, Muhammad lalu mengambil batu itu dan meletakkannya di tempat semula. Dengan pendapatnya yang bijaksana, perselisihan dapat diakhiri. Setelah peristiwa itu Muhammad diberi gelar “al-Amin” artinya ‘orang yang dapat dipercaya.’

Hikmah pelajaran atau ibrah yang dapat kita ambil antara lain :

  1. Sikap Jujur yang harus dimulai sejak kecil
  2. Bersikap sopan santun kepada semua orang
  3. Bekerja keras dan tidak mudah putus asa dalam bekerja
  4. Menjaga amanah atau titipan dari seseorang
  5. Adil dan bijaksana dalam memutuskan permasalahan